![]() |
Makasih Ya Allah Gustiii, kalo aku ga sembuh, aku ga bakal sampai siniii... |
Sering aku bertanya-tanya, bahkan setelah aku sembuh, kenapa aku masih sering sesak, mudah batuk, sendi masih ngilu, dan badan mudah panas-dingin padahal aku sudah putus hubungan dengan penyakit TB. Apakah aku akan tetap merasakan ini selama sisa umurku?
Pengobatan TB minimal 6 bulan
bukanlah waktu yang pendek, walaupun hanya sekedar menelan 3 obat sebesar kacang
kulit. Apalagi efek obat itu yang bikin panas dingin melebihi jatuh cinta, mual
seperti ada anak kucing di dalam perut dan sendi yang ngilu bak motor yang ‘kesatan’
oli.
Setelah sembuh pun bukan berarti selesai, efek penyakit masih terasa seperti sesak, batuk, mudah demam, dan
nyeri sendi. Secara psikis apalagi, aku jadi ‘parno’, ketika batuk lebih dari
seminggu, aku lari ngibrit ke RS khusus paru-paru, takut aku relaps atau
tertular kembali.
Pernah suatu kali kunjungan ku ke RS
tersebut aku bertanya, mengapa efek penyakit ku masih sering muncul meski aku sudah sembuh.
“Setelah dinyatakan sembuh dari TB,
artinya bakteri TB di dalam paru-paru itu sudah mati dan tidak tumbuh. Tapi
bukan berarti kinerja paru-paru akan kembali 100%” kira-kira jawaban Pak Dokter
seperti itu.
Jadi selama sakit, bakteri itu
merusak jaringan, yang paling sering dirusak adalah paru-paru, bahkan baketri itu membuat
lubang seperti sarang lebah di sana. Ketika sudah sembuh, bakteri tersebut
sudah mati, tetapi paru-paru adalah
salah satu jaringan yang susah meregenerasi, artinya meski sudah sembuh,
lubang-lubang dan bekas TB masih akan tetap ada. Itulah penjelasan mengapa aku
yang sudah sembuh masih sering sesak.
Apa efek penyakit TB akan tetap terasa selama sisa umur mereka?
![]() |
Obatnya gedhe sebesar kacang kulit isi 2 biji, dan beratnya 900mg. Sekali minum 3 biji. |
Susah payah aku ‘menguntal’ obat lebih
dari 500 butir, dengan jengkel aku membuat perhitungan dengan tubuhku. Aku akan berusaha sekuat tenaga, entah akhirnya tubuhku yang menguat atau mentalku yang menyerah.
Olah Raga
Aku memulai olah raga 4 tahun yang
lalu, setelah pulang ke rumah hingga sekarang. Olah raga seminggu 3 kali. Diawali
jogging semingggu 3 kali dengan jarak yang dekat dan kecepatan rendah. Capek?
Jelas, ‘ngos-ngosan’ banget. Kecepatan dan jarak pun aku tambah ketika tubuh
sudah beradaptasi.
![]() |
Zumba dengan ibu-ibu gaul,, hak eee hok yaaa |
Bosan dengan jogging aku mengombinasikanya dengan olah raga lain.
Sekarang olah raga yang aku lakukan
adalah jogging-renang-zumba. Sekarang? Aku kuat jingkrak2 satu jam non stop di gym atau
renang bolak-balik lebih dari 10 kali
dengan panjang 50 m.
Gunung
Olah raga tambahan adalah mendaki
gunung. Banyak artikel yang tidak merekomendasikan olah raga ini untuk penderita
bahkan mantan TB. Pertimbanganku karena
sesak ku sering muncul di dataran tinggi dan cuaca dingin , jika aku tidak berlatih, maka tubuhku tidak akan belajar. Keputusan ini artinya perang antara mental dan
tubuh. EXPAND YOUR LIMIIIIITTTT!!!!!!!!
Awalnya? Cuma sampai basecamp artinya
aku belum jalan kaki, apalagi menggotong keril gedhe, itu pun sudah diawali drama sesak dan muntah. (*maafkan aku ya...)
Pendakian selanjutnya, tubuh mulai belajar
dan pencapaian bertambah dari base camp ke pos 1, dan seterusnya. Perjuangan di sini panjang kali lebar, merepotkan banyak teman, menguras air mata, mental, tenaga, emosi dan paling pasti adalah menguras rekening. heheee... Jika banyak yang penasaran ,besok kapan2 aku tulis, cerita Mantan TB bisa sampai puncak. (*malu sih, kesannya kok kayak pamer ini-itu, tapi kalo ceritaku bakal jadi motivasi sesama TB survivor, apa sih yang nggak, aku bersama kalian teman-teman....................)
Kasih jawabanya ya, biar aku tahu, aku ga ahli sandi morse untuk nerjemahin kodemu beb...
Kasih jawabanya ya, biar aku tahu, aku ga ahli sandi morse untuk nerjemahin kodemu beb...
![]() |
Sudah jalan 2 hari Ya Allah, rasanya pingin mabuuurrrrrrrr sajaaa... |
![]() |
Tenaaaanggg,, jangan takuttt, mereka jinak kok... |
Sekarang? Aku masih sering sesak
apabila camp malam hari di ketinggian 3000 mdpl. Tapi mendaki saat siang hari, tubuhku
bisa bertahan di ketinggian lebih dari 3000 mdpl.
Makanan
"Kamu adalah apa yang kamu makan" agaknya ungkapan itu aku setuju sekali, karena bugar terdiri dari 20% olah raga dan 80% nutrisi.
Jelas, aku tidak akan menjelaskan panjang kali lebar, semua orang pasti tahu mana yang sehat dan mana yang tidak. Tidak ada makanan spesial, yang pasti adalah pilih makanan sehat dan jauhi junkfood.
Aku memilih gaya hidup food combining yang sebenarnya juga tidak ada makanan mahal dan spesial. Aku melakukannya sudah hampir 3 tahun yeyyyyyy…
Apa saja yang berubah?
Aku dulu sering sesak, saat kecapekan,
dingin, berada di ketinggian, bahkan hanya sekedar tidur tidak berselimut itu
menyebabkan napas terasa sesak di pagi hari. Sekarang, sesak muncul hanya ketika
berada di ketinggian 3000 ke atas, dan kecapekan di rumah tetapi hanya
sekali-dua kali dalam setahun yang penyebabnya masih belum tahu.
Nyeri sendi dulu sering terasa apalagi
saat badan demam, dan nyerinya itu sampia ke gigi dan jari-jari tangan. Buruknya,
demam itu betah sekali tinggal di badanku. Sekarang, nyeri sendi masih juga terasa saat
kurang olah raga dan saat demam, tetapi intensitas demam sekarang jauh berkurang. Biasanya demam saat badan
mau sakit. Solusinya sebelum badan sakit, pasti ada tanda-tanda badan mudah
capek dan sebagainya, nah itu aku manfaatkan minum air bergalon-galon agar ketika
sakit, tubuh tidak demam.
![]() |
Perjalanan hidup yang berat itu biasanya membawa kita ke tempat yang indah |
Apa efek penyakit TB akan tetap terasa selama sisa umur mereka?
Jawabannya TERGANTUNG “Apakah dia
sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghargai kesempatan hidup kedua yang
diberikan Tuhan setelah sembuh TB atau belum”
Artikel terkait :